Cerita Penggiat Kopi Arabika dari Semende, Kini Hasilnya Tembus Pasar Nasional

    AM Kemitraan CSR PTBA, Listati bersama Ketua Koptan Ruang Napalan, Multan, saat berada di perkebunan kopi di wilayah Semende. Foto : HUMAS PTBA FOR ENIMEKSPRES.CO.ID

    ENIMEKSPRES.CO.ID, MUARA ENIM – Perbukitan yang tinggi dengan udara yang sejuk dan jalan berliku serta sedikit jalan datar, menjadi gambaran wilayah yang ada di hulu Kabupaten Muara Enim, bernama Semende.

    Semende yang statusnya kecamatan terdapat wilayah Laut, Tengah, dan Ulu merupakan kawasan yang menyimpan potensi wisata di Bumi Serasan Sekundang. Selain menyimpan keindahan panorama alam, siapa yang tidak kenal dengan hasil alamnya berupa kopi.

    Banyak sejarah mencatat, Kopi Semende sudah sejak lama dinikmati dan menjadi buruan pecinta kopi, baik dari dalam maupun luar negeri. Jeme Semende, sebutan untuk orang Semende, percaya produk kopi dari Semende baik jenis Robusta maupun Arabika tidak kalah bersaing dengan kopi lainnya.

    Berjalan menyusuri perbukitan yang berada di ketinggian 1200 Meter Dari Permukaan Laut (MDPL) hingga 1400 MDPL, saat bertatap muka langsung dengan Multan, selaku Ketua Koptan Ruang Napalan didampingi rekan-rekannya di perkebunan kopi, tidak terlihat raut wajah mengeluh, pun juga tidak terlihat goyahnya tapakan kaki mereka yang tetap berdiri kokoh di Desa Gunung Agung, Kecamatan Semende Darat Tengah (SDT) yang memiliki temperatur nyaris di bawah 20 derajat celsius.

    Dengan tarikan senyum yang ramah, penggiat kopi arabika Semende yang merupakan warga pribumi ini, satu per satu menyalami dan langsung bertegur sapa dengan penuh keakraban.

    “Seperti inilah kontur alam Semende, dingin dan jalannya menanjak, tapi Alhamdulillah tanahnya subur,” tutur Multan.

    Multan ceritanya, awalnya dia dan teman-temannya belum begitu menggali potensi kopi yang ada di Semende. Padahal pertumbuhan kopi sangat cocok dengan iklim di Semende. Selama ini, hanya budidaya kopi robusta dengan ilmu seadanya dan tidak cara menggali potensi kopi arabika.

    Kopi Semende jenis arabika tidak kalah dengan jenis kopi lainnya. Dan memiliki harga lebih mahal dari jenis robusta. Mulai dari budidaya, pengolahan, dan pengemasan, sebelum menjadi mitra Corporate Social Resposibilty (CSR) PT Bukit Asam Tbk di tahun 2013, diakui Multan dilakukan dengan belajar serba otodidak atau belajar dari pengalaman.

    Padahal, varian arabika dari kopi Semende tersebut menurut Pusat Penelitian Kopi di Jember, Jawa Timur, memiliki skor tidak jauh beda dari daerah lain. Bahkan bisa diadu dari citra rasa serta sudah bersertifikat kementerian.

    Kopi arabika Semende ini bisa membantu pemerintah mengurangi tingkat kemiskinan. Dengan mengucapkan Bismillah, Multan dan teman lainnya menuju Kabupaten Pengalengan, Jawa Barat, diberangkatkan PTBA untuk menimba ilmu kopi arabika pada tahun 2019 dan telah mendapatkan sertifikat Pelatihan Budidaya Tanaman Kopi dan sertifikat Pelatihan Roasting Kopi di Coffetography.

    Setelah kembali dari menimba ilmu pada ahli kopi internasional. Dan berjumpa kembali dengan masyarakat petani kopi, muncullah hambatan. Kendala yang dirasa sulit tidak bisa terelakan, tapi diyakini bisa diatasi, yakni mengubah mindset masyarakat dalam menangani kopi.

    Memang harus dengan sabar untuk mengajak masyarakat petani kopi dalam mengubah mindset mereka dari pola pikir petani kopi tradisional menjadi petani kopi yang profesional. Untuk diketahui binaan CSR PTBA, ada petani kopi di Pelakat, Segamit, dan Cahaya Alam yang masih di Semende, selain penggiat kopi Ruang Napalan yang punya lahan kopi sendiri.

    Lambat laun masyarakat bisa menerima pola yang dirasa baru, mulai dari penanganan kopi arabika tidak bisa dilakukan perorangan harus kelompok, pemilihan bibit kopi, pola tanam dengan media pasir, polybag, bahkan dengan cara zig-zag, panen pun harus petik merah, penjemuran hanya boleh dilantai, prosessing standar internasional, dan packaging atau pengemasan kopi pun tidak boleh asal-asalan. Ada caranya.

    “Dan kini, Alhamdulillah, pasar kopi lokal baik diserap teman-teman PTBA dan pasar nasional di antaranya Sumatera Utara yang jadi pasar utama sudah bisa diisi dari kopi arabika Semende. Kami pun terus melakukan peningkatan produksi kopi arabika, karena pasar masih banyak membutuhkan kopi jenis arabika,” urai Multan.

    Mengakhiri perbincangan, Multan tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada PTBA dan Pemerintah Daerah Kabupaten Muara Enim yang sangat mendukung dia dan teman-temannya. “Alhamdulillah, saat ini terjadi perubahan yang signifikan pada usaha pertanian kopi kami,” sebut Multan.

    Multan berkeyakinan, dengan mindset baru semangat dalam mengelola perkebunan kopi bisa membawa hasil yang baik. “Insya Allah, di lahan 2,5 hektare ini bulan Mei 2021, kita bisa panen petik merah,” ucapnya.

    Sementara itu, AM Kemitraan CSR PTBA, Listati mengatakan dukungan PTBA melalui CSR kepada petani kopi di Semende berawal pada 2013 serentak dengan program Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Pelakat, lalu didirikan Rumah Kopi Pelakat hingga PTBA merasa perlu membantu mengembangkan usaha tani kopi di Semende dengan mengirim belajar kopi di Pangalengan, Jawa Barat.

    “Peran PTBA ini juga ikut membantu peran pemerintah daerah memajukan kopi Semende hingga kopi Semende masuk Pesona Indonesia Award, selain bentuk kepedulian PTBA kepada lingkungan perusahaan,” ujar Listati.

    Hingga saat ini, CSR PTBA tetap memberikan bimbingan untuk kemajuan Multan dan kawan-kawan. (rel/and)

    loading...

    LEAVE A REPLY